Manajemen Perbaikan Sikap

sekolah dasar negeriManajemen Perbaikan Sikap. Ketika saya melakukan perjalanan dari Jakarta-Bangkok belum lama ini, saya tak bisa mendapatkan kursi yang diinginkan. Biasanya saya suka memilih kursi di jendela agar bisa memandangi kota Bangkok saat menjelang mendarat. Ternyata, meskipun cukup cepat check in, saya kalah cepat dibandingkan seratusan turis Jepang yang menjadi pengisi tiga perempat kapasitas pesawat saat itu.


Jadilah saya diimpit oleh Jepang-jepang yang tak banyak bicara. Namun, sebagai seorang pengajar yang suka mengamati perilaku masyarakat, etnik, atau ras berbeda, saya mendapatkan pelajaran dalam perjalanan yang hanya 3,5 jam itu melalui sebuah observasi.

Pertama, saya melihat masyarakat Jepang termasuk masyarakat yang sangat teliti dan memerhatikan detail. Mereka sangat rapi menempatkan barangnya, tidak sampai menganggu barang-barang orang lain. Mereka sangat hati-hati sehingga tidak menindih atau meminggirkan barang orang lain demi barangnya bisa tersimpan di kabin. Perilaku itu terlihat seragam dilakukan oleh orang-orang Jepang yang rata-rata telah berumur lebih separuh baya itu.

Kedua, masyarakat Jepang dalam perjalanan itu sangat patuh kepada pimpinan. Ketika tiba di terminal Suvarnabhumi, Bangkok, mereka bergegas menuju ke tempat mengambilan bagasi untuk segera mendengar instruksi pimpinan rombongan. Tidak terlihat sikap pembangkangan, atau mau menang sendiri, dan sok pintar dengan tidak berkumpul dengan rombongan.

Ketiga, masyarakat Jepang, bukan hanya dalam cerita, tapi saya alami sendiri, adalah masyarakat yang sangat memerhatikan kebersihan. Saat akan antre ke toilet di atas pesawat, saya sempat “mengintip” ketika pintu dibuka, toilet dalam posisi tertutup ketika penggunanya keluar.

Ketika tiba saat saya menggunakannya, saya melihat toilet yang saya gunakan, bukan hanya tertutup rapi, tapi juga tidak ada tetesan air, baik di lantai, di cangkang, juga dudukan toilet. Saya tahu bahwa belasan orang yang telah masuk di ke dalam toilet itu tentu bukan hanya untuk becermin atau eksyen tapi juga melakukan aktivitas buang air.

Mereka sama sekali tidak ingin orang yang masuk setelahnya mendapatkan “jejak tak diperlukan”. Untuk membuat toilet tetap kering saya duga mereka “mengepel” seluruh sudut yang tertumpah air dengan tisu dan terakhir menyebarkan K├Âlnisch Wasser di toilet agar tetap wangi. Sikap mereka itu ikut membuat saya “terprovokasi” mengepel ruang toilet itu, meskipun tidak serapi mereka.

Analisis komprehensif

Tulisan singkat ini tidak akan membuat analisis komprehensif tentang antropologi Jepang. Tapi tetap rasa ingin tahu membuncah, dari mana inspirasi kultural itu mereka dapatkan sehingga pada milenium kedua ini telah menjelma menjadi bangsa maju? Padahal belum seabad negeri Samurai itu diluluh-lantakkan oleh Amerika Serikat melalui bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Saya juga tidak mudah menghubungkan kesantunan dan kebaikan mereka miliki jika dikontraskan dengan kejahatan perang yang dilakukan oleh indatu Dai Nippon saat perang di Asia timur, terutama di daratan Cina.

Dalam film The Flowers of War (2011) diperlihatkan bagaimana kejahatan perang yang dilakukan tentara Jepang ketika menguasai Kota Nanjing (dulu disebut dengan Nanxing), Cina, pada 1937. Mereka melakukan pembunuhan massal, tak peduli perempuan dan anak-anak, dan perkosaan brutal.

Ketika menonton film yang dianugerahi sebagai film berbahasa asing terbaik pada Academy Award ke-84 itu, kita semua setuju bahwa kejahatan kemanusiaan Jepang di Nanjing sama sekali tak bisa dimaafkan, sangat barbar dan di luar ambang nalar kemanusiaan siapa pun. Namun kemana semua kebiadaban itu saat ini, hilang dan menjelma menjadi bangsa yang santun, maju, dan berbudaya?

Saya katakan bahwa inilah proses belajar yang diinspirasi oleh banyak hal. Bukan hanya nilai-nilai filosofis yang telah dimiliki bangsa itu sejak puluhan ribu tahun, tapi juga keyakinan, struktur alamnya, interaksi masyarakatnya (Negara Jepang dihuni lebih 98 etnis Jepang sendiri, sehingga kohesivitas sosial dan kulturalnya relatif dipengaruhi aspek internal etnisnya), struktur pemerintahan modern, dan etika global yang ikut diserap pasca-malapetaka Hiroshima dan Nagasaki.

Apa yang diperlihatkan Jepang dalam perjalanan singkat dari Jakarta-Bangkok itu adalah resultante dari sikap (attitude) yang berasal dari cara meyakini dan merasai sesuatu (a way of believing and feeling), sehingga terbentuk kebiasaan (habitus) sebelum aktual sebagai perilaku atau dalam bahasa agama disebut akhlak. Bagi saya spiritualitas mereka termasuk di atas rata-rata, meskipun kita menganggap mereka hanya penganut “agama bumi” (Shinto).


Refleksi Ramadhan

Terkait dengan refleksi Ramadhan, saya ingin koneksikan, jika mereka bisa membentuk diri menjadi pribadi yang menawan, kenapa pula umat Islam yang memiliki satu bulan introspeksi diri melalui ibadah puasa tidak bisa mengembangkan kualitas spiritualitas menjadi lebih menawan? Bahwa tujuan akhir puasa yaitu ketakwaan seperti yang diafirmasi dalam Al-Baqarah 183, bukan terkait dengan akumulasi “ritual keras” seperti shalat, i’tikaf, tadarus, sumbangan takjilan belaka, tapi ada yang lebih dalam, yaitu berubahnya sikap dan karakter pribadi kita menjadi lebih baik.

Puasa, jika kita resapi dalam pengalaman pribadi, adalah invitasi dalam ruang dan waktu untuk memikirkan kembali secara mendalam atas diri (ego) dan moralitas kita, apakah telah cukup elok, jujur, rendah hati, dan solider, atau belum. Jika ibadah ini hanya menjadi bagian rutinitas dan manajemen nir-makan, minum, dan seksual, saya pikir derajat dalam Alquran itu belum tercapai.

Sebab ada banyak blessing in disguise seperti yang dilanjutkan dalam Al-Baqarah 184: “Berpuasa lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” Tanda-tanda itulah yang harus diungkap oleh puasawan/puasawati untuk mengetahui rahasia Ramadhan yang dahsyat itu melalui perbaikan sikap, cara pikir, cara meyakini, dan akhirnya bermuara pada tindakan aktual.

Puasa yang sedang kita jalani ini akan menunjukkan jalannya sendiri apakah telah tepat pada jalur perbaikan moralitas pribadi dan sosial sehingga bisa beranjak ke etape lebih tinggi dibandingkan Ramadhan tahun lalu atau tidak. Anda yang berpuasa, Anda yang menentukan!

* Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe. Email: kemal_antropologi2@yahoo.co.uk
Posting Komentar